freedominsubmission:

View of Makkah from Mount Thor. Inshallah someday. 

(Source: The Atlantic)

(Reblogged from alongthepathtopeace)

Butuh, Ingin atau Pantas?

Saya ingin sekedar membagikan sebuah tulisan dari seorang akhwat yang penting untuk disimak mengenai masalah pernikahan.

—Anda Termasuk Orang Yang Mana? Orang yang Ingin, Butuh atau yang Pantas untuk MENIKAH?Akhir-akhir ini, sy semakin sering menjumpai postingan ttg pernikahan dari teman-teman yg jomblo alias masih single. Kalimatnya bermacam-macam. Ada yang mengeluh dan menertawakan diri krn jodoh tak kunjung datang, ada yang mengungkapkan kalimat rindu (berharap jodohnya baca update statusnya kali yaa..), ada yg berisikan kalimat do’a-do’a, ada pula yg mendadak jadi pakar pernikahan yang memberikan nasihat dan kalimat-kalimat motivasi. Bahkan memasang kalimat-kalimat rayuan yg sering dibubuhi kaya (‪#‎eaaa‬, ‪#‎tsaah‬, ‪#‎ciyeee‬, dsb).Adakah Anda salah satu yg disebut di atas?Semua ekspresi sah-sah saja diungkapkan ke media sosial seperti facebook, twitter, dsb. Terlepas dari etika umum jejaring sosial yg harus kita pegang, kita semua memiliki hak penuh untuk memposting apapun yg berkenaan dengan diri kita, termasuk Anda singlewan singlewati.Nah, pada pembahasan kali ini, saya akan mendiskusikan mengenai kelas kesiapan seseorang untuk menikah dilihat dari update statusnya. Memang ini bukan ukuran mutlak. Namun kita tentu percaya, apa yg kita tulis sejatinya cukup menjawab pertanyaan mengenai siapa dan bagaimana diri kita. Termasuk soal kesiapan dan pemahaman seseorang tentang pernikahan. Daripada berlama-lama, mari kita masuk lebih jauh ke pembahasan utama.Menurut Ust. Syatori Abdul Ro’uf Al- Hafidz, dasar seseorang memutuskan untuk menikah ada 3: 1) INGIN, 2) BUTUH, 3) PANTASSaya akan menguraikan penjelasan beliau dengan penyesuaian dari saya.Pertama, Kelompok INGIN.Seseorang yang masuk ke dalam kelompok INGIN menikah, biasanya adalah orang-orang yang melihat dirinya dalam kesendirian, sementara teman-temannya sudah pada menikah. Orang-orang tipe ini senang sekali update status tentang kegalauannya hidup sendiri. Ia merasa sengsara dan menderita dengan kesendiriannya, dan kenelangsaannya itu, ia ungkapkan di status facebooknya. Seseorang yang hendak menikah hanya karena INGIN saja, biasanya ia tidak akan selektif dalam memilih jodoh. Keinginannya membuatnya BERSEGERA memenuhi keINGINannya itu, yakni menikah. Yang penting cepet nikah. Padahal, INGIN itu ada batasnya. INGIN itu sifatnya hanya sebentar. Setelah keINGINannya itu terpenuhi, yakni menikah, ia lantas mudah sekali bosan dan menemukan kejemuan dalam pernikahannya. Mengapa?Seseorang yang menikah hanya karena INGIN saja, ia hanya mengerti jika pernikahan itu isinya indah-indah. Coba tengok update status Anda. Jika disebut tentang pernikahan, lantas fikiran Anda membayangkan dalam keberduaan yang ada adalah canda dan keceriaan, romantisnya sholat berjamaah berdua Anda imam dan ada istri yg setia mengamini doa-doa Anda, nikmatnya makan malam berdua atau segala sesuatu yg serba berdua yg indah-indah, dan bukannya tentang kebarokahan pernikahan dengan keragaman kondisinya, maka bisa jadi Anda adalah seseorang yg masih sekedar INGIN menikah saja.Salahkah menikah hanya karena memuaskan INGIN saja?Menikah karena INGIN itu, ibaratnya seperti seseorang yang merokok. Ia akan membuang rokoknya setelah tidak ada lagi yg bisa dihisab. Setelah dahaga INGIN Anda terpuaskan, Anda akan mudah sekali labil menjalani rumah tangga. Ya. Karena INGIN Anda sudah terpuaskan dengan berhasil menikah. Pernikahan yang dilandasi atas dasar INGIN tadi, akan mudah sekali goyah. Gampang cekcok dengan pasangan. Akhirnya rentan sekali dengan perceraian. Hal ini karena setelah keINGINannya terpuaskan, ia akan menyisakan kehidupan pernikahan yang tidak sama dengan persepsinya tentang pernikahan yang serba indah tadi. Kedua, kelompok BUTUH.Orang-orang yg masuk ke dalam kelompok orang yg BUTUH untuk menikah diantaranya adalah orang-orang yang menikah krn pengen menjaga diri. Ia merasa harus segera menikah karena khawatir tidak bisa menjaga hati dan takut terjerumus dalam dosa. Orang-orang kelompok ini, biasanya merasa sudah ba’ah, yakni seseorang yg sudah mampu memberikan nafkah lahir maupun batin. Orang-orang tipe ini biasanya memang kaya secara finansial, atau minimal cukup finansial. Tetapi, boleh jadi ia miskin spiritual. Ada rasa takut jika tidak segera menikah maka akan terjerumus dosa,tapi takutnya hanya sebatas takut saja. Tidak mempersiapkan diri lebih dari itu. Orang yang menikah hanya karena takut terjerumus, belum tentu pernikahannya itu adalah solusi. Ia menikah hanya untuk memenuhi hajat kebutuhannya. Sementara, tidak ada yg menjamin bahwa setelah menikahi seorang wanita, tingkat keberbutuhannya tercukupi. Dengan kata lain, nikah dengan seorang istri saja tidak cukup karena begitu besar dorongannya memBUTUHkan lebih dari itu. Meski ada pula, menikahi lebih dari satu istri yg merupakan cermin tingginya spiritual. Yakni jika ia mampu menghadirkan pernikahan yg tidak sampai menimbulkan luka bagi istri pertamanya. Kelompok yg ketiga adalah PANTAS.Seseorang yang PANTAS untuk menikah adalah orang yg tidak gemar show off atas kesiapannya menikah di hadapan pubik (termasuk di jejaring sosial). Ia tidak perlu mengatakan itu,orang lain pun sudah bisa menilai bahwa ia sungguh telah PANTAS menikah. Orang-orang kelompok ini justru adalah orang-orang yg jarang mengekspose kerinduannya akan hadirnya belahan jiwa meski kerinduannya sudah meledak-ledak di dalam dada. Orang-orang tipe ini juga tidak gemar menuliskan di update status betapa dia menjaga hatinya dan betapa khawatirnya ia terjerumus dalam kubang dosa. Ia menjaga sikap dan akhlaqnya dalam sikap, bukan sekedar kata. Ia habiskan hari dengan banyak beristighfar pada Robbnya tanpa diserukan lewat jejaring sosialnya. Orang-orang kelas PANTAS ini tidak membutuhkan pendeklarasian diri bahwa dia sudah PANTAS untuk menikah. Ia justru akan mendapatkan pengakuan akan kePANTASannya dari orang-orang di sekitarnya. “Kamu kan sudah PANTAS menikah. Nunggu apa lagi, sih?”, Tak jarang ditanya guru atau ustadznya, “Antum nunggu apa lg? Belum ada jodoh? Kalau sama anak saya mau?” Ada juga yang kemudian datang menawarkan saudaranya padanya “Kamu itu shalihah, pandai memasak, rajin, sudah ada calon belum? Mau nggak sama kakak saya?”.Nah… sekarang saatnya kita kembali menengok ke dalam diri, Apakah kata-kata kita (termasuk tulisan kita di jejaring sosial) layak untuk dikatakan PANTAS menikah, jika membicarakan pernikahan saja dengan cekikikan, rayuan gombal, dan imajinasi-imajinasi keberduaan yg jauh dari orientasi mencari keberkahan pernikahan? Tak berlebihan kiranya jika tergelitik rupanya saya untuk diam diam mengamati fenomena update status singlewan singlewati tentang pernikahan. Benarkan tujuan kita update status ttg pernikahan yg dibumbui canda sekedar joke semata? Apakah update status ttg motivasi pernikahan yg kita berikan benar-benar ‘sekedar’ berbagi motivasi? Atau jangan-jangan kita hanya tengah show off kesiapan, atau dangkalnya lagi kita tengah tebar pesona agar diidamkan banyak pasang mata yg membacanya yg boleh jadi salah satunya ‘si dia’ ? Akhirnya, bukan sekedar MENIKAH MUDA yang selayaknya kita citakan. Tapi MENIKAH DEWASA. Menikah dengan segenap kesadaran ilmu, akhlaq, dan orientasi tentang membangun rumah tangga.Bukan sekedar INGIN atau BUTUH, tetapi kita memang PANTAS untuk menikah.—

Iva Wulandari, 2014

islamicthinking:

Masjid Nabwi on a rare cloudy day.

I’ll be there, someday… (insya Allah)

(Reblogged from islamicthinking)

kehidupan masih terlalu menarik untuk kita acuhkan

terdapat begitu banyak kejutan yang akan kita alami,

meskipun tidak semuanya menyenangkan…

rufisa:

Aulia dan Gerhana. Dua sahabat yang tak terpisahkan. Pertama kali ketika saya datang dan mengajar sebagai guru baru, saya sudah dikagetkan dengan tingkah mereka berdua; main kejar-kejaran di lapangan bola. Padahal teman-teman seusianya sedang asyik bersosmed ria di dalam kelas sambil putar musik hip-hop atau apalah itu namanya.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin melihat suatu “keistimewaan” pada diri Aulia (sebelah kiri). Dia bisa membaca, tapi bicaranya masih tidak jelas seperti kumur-kumur, saya berkali-kali harus berkata “Coba ulangi, Nak,” atau “Lebih keras lagi,” sambil memfokuskan arah mata saya pada gerak bibirnya. Dia juga bisa menulis, tapi untuk memahami tulisannya itu, saya harus menelaah hurufnya satu persatu. Tak apa, saya sangat menikmatinya!

Gerhana. Dia pintar. Selalu juara kelas. Tapi sayang, dia seperti tersingkirkan secara pelan-pelan setiap kali ada perbincangan seru di kelas. Atau tak jarang dia menjadi bahan lawakan teman-temannya karena saking polosnya. Teman-temannya mencarinya hanya ketika ada PR atau ulangan. “Ger, liat dong!” Dan ketika ada pembagian kelompok, dua nama inilah yang selalu menjadi pilihan terakhir (memenuhi kursi yang kosong saja). Bagi Gerhana, teman yang tidak pernah memaksanya mengerjakan PR, dan selalu menjadikannya sebagai pilihan pertama ketika ada pembagian kelompok adalah Aulia. Mungkin dari situlah cerita pertemanan mereka dimulai. Dan dari situlah saya bisa melihat contoh lain dari sebuah persahabatan yang tulus.

Allah membukakan mata hatiku lagi, bahwa Dia menciptakan berjenis-jenis manusia untuk bisa saling melengkapi…

————————————————————————————————-

*Foto di atas diabadikan oleh Novi, teman sekelas mereka. :)

Masya Allah

(Reblogged from rufisa)
(Reblogged from kurniawangunadi)

akhwataluswah:

ada banyak sekali alasan untuk memilih tidak pacaran,

yang manakah alasanmu?

(Reblogged from akhwataluswah)

Transisi Kehidupan, bagian 2

Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh..

Masih di kota pelajar. Faktor yang tidak kalah penting yang menyebabkan perubahan dalam hidup saya saat itu adalah pertemuannya dengan ‘nya’. Seorang akhwat yang tanpa sengaja saya lihat sewaktu kantor sedang mengadakan acara yang kebetulan tamunya berasal dari kalangan aktifis mahasiswa.

Kejadiannya tepat setahun yang lalu. Tidak banyak yang terjadi sampai saya akhirnya memutuskan untuk mencari tau informasi mengenai beliau melalui jejaring sosial dan dunia maya. Kemudian selang beberapa hari setelah saya melihatnya, saya menjadikannya teman di salah satu jejaring sosial yang cukup populer pada saat itu. Tidak ada interaksi secara langsung sedikitpun diantara kami selama menjadi teman di jejaring sosial tersebut. Hanya saja, diri ini senantiasa menjadi pembaca setia dari tulisan-tulisannya.

Ia biasa menuliskan pemikirannya di dunia maya. Tulisan yang biasa ditulis bisa beragam, mulai dari pendidikan, keseharian, sampai isu-isu terbaru yang sedang marak pada saat ia membuat tulisan. Namun, analisa yang diberikan dalam penulisan tersebut tidak pernah lepas kaitannya dari kaedah-kaedah yang terdapat dalam ajaran islam. Hal tersebut membuat saya penasaran, iri, bahkan kagum akan sosoknya yang masih sangat misterius karena selama ini belum pernah saya menemukan yang seperti beliau. Cerdas, pintar, cantik, dan……. sholihah (insya Allah). Ya, saya mungkin sudah sering melihat yang secara fisik jauh lebih cantik dari dirinya, namun ia terlihat cantik karena pakaian yang dikenakannya. Pakaian yang membuat seseorang jadi jauh lebih cantik, luar dan dalam. Pakaian takwa.

Tulisan yang biasa ia posting di dunia maya banyak membuka pikiran dan memotivasi diri ini untuk belajar lebih banyak hal baru yang bermanfaat dan bahkan sebenarnya wajib untuk saya pelajari, yaitu ilmu tentang agama. Sejak saat itu hingga sekarang, mungkin sudah banyak perubahan yang terjadi pada diri ini. Saya sangat bersyukur atas hal tersebut. Orang-orang terdekat pun merasakan dan ikut senang atas perubahan yang terjadi pada diri saya. Dan yang paling saya inginkan agar bisa sepertinya ialah semangatnya untuk selalu menebar manfaat bagi orang lain dalam segala macam hal. Cukup banyak tindakan nyata dalam hal bersifat kebaikan, berupa kegiatan-kegiatan yang ia biasa lakukan. Saya mengetahui informasi tersebut dari beberapa sumber yang insya Allah cukup terpercaya.

Saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri, timbul perasaan yang sangat kuat terhadapnya. Perasaan yang, jujur, baru pertama kali saya merasakannya. Seakan-akan saya lupa bahwa saya pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Perasaan cinta yang mungkin biasa kita sebut, cinta karena-Nya. Ya, karena kita mencintai seseorang yang kita tahu begitu dekat dan sangat mencintai Rabb-nya. Dan itu bukan hanya sekedar cinta yang diikrarkan dalam kata-kata, tetapi juga dalam amal nyata keseharian kita. Dimana tiap saat, kita melakukan segala hal hanya demi memperoleh ridho-Nya. Cinta yang memang sudah seharusnya tertanam pada diri setiap seorang muslim. Cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala. (wallahu a’lam bish showab)

bersambung: Transisi Kehidupan, bagian terakhir…

islahnafsi:

akumuhaimin:

Takkan pupus dari ingatanku, saat saudaraku terbujur kaku, terdiam dan merasa bisu. Menyahut syahid, melaung takbir, kami bersamamu Mesir .

#PrayForEgypt

nahnu ma’akum. Allah ma’akum.

(Reblogged from ananadiah89-tumblr)

islamicthinking:

A man plans his course, but Allah guides his steps.

Allahu akbar..

(Reblogged from islamicthinking)
(Reblogged from islamdiaries)

PROLAP PAPUA  PHOTO SESSION

Kapal di pelabuhan, memang aman. Tetapi bukan itu maksud dibuatnya kapal
Satria Hadi Lubis