(Reblogged from catatanbesarku)
Every woman deserves a man who loves and respects her, and every man deserves a woman who appreciates his efforts.
Anonymous (via dokterfina)
(Reblogged from kurniawangunadi)
(Reblogged from superbmother)

Plato: Bagaimana Menemukan Cinta Sejati

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlahkamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” .

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan saja.

Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

——————

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.
Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta.
Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

sumber: http://www.rodazaman.com/

(Reblogged from urfaqurrotaainy)

kurniawangunadi:

Pertanyaan menarik : Sering orang berkata, laki-laki dilihat masa depannya, wanita dilihat masa lalunya, bagaimana menurut mas Gun?

Ini saya jawab :

Saya akan menjawab dengan pendapat pribadi, jadi ini subjektif ya :)

Menurut saya, kalimat tersebut sangat picik dan cenderung menyudutkan perempuan. Saya laki-laki dan ketika membicarakan perempuan saya selalu berkaca bagaimana bila itu adalah ibu saya, saudara perempuan saya, atau istri dan anak-anak perempuan saya nantinya.

Masa lalu itu dimiliki setiap orang, baik laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang salah dengan masa lalu. Sayangnya, manusia di jaman kita ini senang sekali membicarakan masa lalu sampai dibuat di program televisi sebagai infotainment (hiburan informasi). Saat informasi mengenai aib justru dijadikan bahan hiburan. Ya keadaan memang seperti itu kan sekarang.

Kalimat pernyataan bahwa “Laki-laki dilihat dari masa depan dan perempuan dari masa lalu” seperti propaganda untuk menguntungkan laki-laki saja. Saya lebih suka melihat seseorang di masa sekarang dan visinya di masa depan lalu dilihat bagaimana dulu dia di masa lalu. Masa depan-sekarang-masa lalu adalah satu kesatuan. Berada dalam satu jiwa dalam satu individu dan jasad. Masing-masing memilikinya dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kecuali orang itu amnesia, tapi tetap saja orang lain akan menyimpan memori tentang masa lalunya itu.

Perempuan, dengan segala penghormatan saya. Sebab ibu saya adalah seorang perempuan. Masa depan yang ada padanya jauh lebih penting daripada apa yang terjadi di masa lalunya. Seburuk apapun masa lalu itu.

Bahkan Allah saja selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengubah dirinya menjadi baik. Memaafkan masa lalu yang mungkin penuh kesalahan.

Bila kita berada dalam posisi itu, dilihat dari masa lalunya. Apa kita mau? Coba tanya ke diri sendiri :)

Kita semua diajarkan untuk berprasangka baik, kan? :)

leres :)

(Reblogged from kurniawangunadi)

freedominsubmission:

View of Makkah from Mount Thor. Inshallah someday. 

(Source: The Atlantic)

(Reblogged from alongthepathtopeace)

Butuh, Ingin atau Pantas?

Saya ingin sekedar membagikan sebuah tulisan dari seorang akhwat yang penting untuk disimak mengenai masalah pernikahan.

—Anda Termasuk Orang Yang Mana? Orang yang Ingin, Butuh atau yang Pantas untuk MENIKAH?Akhir-akhir ini, sy semakin sering menjumpai postingan ttg pernikahan dari teman-teman yg jomblo alias masih single. Kalimatnya bermacam-macam. Ada yang mengeluh dan menertawakan diri krn jodoh tak kunjung datang, ada yang mengungkapkan kalimat rindu (berharap jodohnya baca update statusnya kali yaa..), ada yg berisikan kalimat do’a-do’a, ada pula yg mendadak jadi pakar pernikahan yang memberikan nasihat dan kalimat-kalimat motivasi. Bahkan memasang kalimat-kalimat rayuan yg sering dibubuhi kaya (‪#‎eaaa‬, ‪#‎tsaah‬, ‪#‎ciyeee‬, dsb).Adakah Anda salah satu yg disebut di atas?Semua ekspresi sah-sah saja diungkapkan ke media sosial seperti facebook, twitter, dsb. Terlepas dari etika umum jejaring sosial yg harus kita pegang, kita semua memiliki hak penuh untuk memposting apapun yg berkenaan dengan diri kita, termasuk Anda singlewan singlewati.Nah, pada pembahasan kali ini, saya akan mendiskusikan mengenai kelas kesiapan seseorang untuk menikah dilihat dari update statusnya. Memang ini bukan ukuran mutlak. Namun kita tentu percaya, apa yg kita tulis sejatinya cukup menjawab pertanyaan mengenai siapa dan bagaimana diri kita. Termasuk soal kesiapan dan pemahaman seseorang tentang pernikahan. Daripada berlama-lama, mari kita masuk lebih jauh ke pembahasan utama.Menurut Ust. Syatori Abdul Ro’uf Al- Hafidz, dasar seseorang memutuskan untuk menikah ada 3: 1) INGIN, 2) BUTUH, 3) PANTASSaya akan menguraikan penjelasan beliau dengan penyesuaian dari saya.Pertama, Kelompok INGIN.Seseorang yang masuk ke dalam kelompok INGIN menikah, biasanya adalah orang-orang yang melihat dirinya dalam kesendirian, sementara teman-temannya sudah pada menikah. Orang-orang tipe ini senang sekali update status tentang kegalauannya hidup sendiri. Ia merasa sengsara dan menderita dengan kesendiriannya, dan kenelangsaannya itu, ia ungkapkan di status facebooknya. Seseorang yang hendak menikah hanya karena INGIN saja, biasanya ia tidak akan selektif dalam memilih jodoh. Keinginannya membuatnya BERSEGERA memenuhi keINGINannya itu, yakni menikah. Yang penting cepet nikah. Padahal, INGIN itu ada batasnya. INGIN itu sifatnya hanya sebentar. Setelah keINGINannya itu terpenuhi, yakni menikah, ia lantas mudah sekali bosan dan menemukan kejemuan dalam pernikahannya. Mengapa?Seseorang yang menikah hanya karena INGIN saja, ia hanya mengerti jika pernikahan itu isinya indah-indah. Coba tengok update status Anda. Jika disebut tentang pernikahan, lantas fikiran Anda membayangkan dalam keberduaan yang ada adalah canda dan keceriaan, romantisnya sholat berjamaah berdua Anda imam dan ada istri yg setia mengamini doa-doa Anda, nikmatnya makan malam berdua atau segala sesuatu yg serba berdua yg indah-indah, dan bukannya tentang kebarokahan pernikahan dengan keragaman kondisinya, maka bisa jadi Anda adalah seseorang yg masih sekedar INGIN menikah saja.Salahkah menikah hanya karena memuaskan INGIN saja?Menikah karena INGIN itu, ibaratnya seperti seseorang yang merokok. Ia akan membuang rokoknya setelah tidak ada lagi yg bisa dihisab. Setelah dahaga INGIN Anda terpuaskan, Anda akan mudah sekali labil menjalani rumah tangga. Ya. Karena INGIN Anda sudah terpuaskan dengan berhasil menikah. Pernikahan yang dilandasi atas dasar INGIN tadi, akan mudah sekali goyah. Gampang cekcok dengan pasangan. Akhirnya rentan sekali dengan perceraian. Hal ini karena setelah keINGINannya terpuaskan, ia akan menyisakan kehidupan pernikahan yang tidak sama dengan persepsinya tentang pernikahan yang serba indah tadi. Kedua, kelompok BUTUH.Orang-orang yg masuk ke dalam kelompok orang yg BUTUH untuk menikah diantaranya adalah orang-orang yang menikah krn pengen menjaga diri. Ia merasa harus segera menikah karena khawatir tidak bisa menjaga hati dan takut terjerumus dalam dosa. Orang-orang kelompok ini, biasanya merasa sudah ba’ah, yakni seseorang yg sudah mampu memberikan nafkah lahir maupun batin. Orang-orang tipe ini biasanya memang kaya secara finansial, atau minimal cukup finansial. Tetapi, boleh jadi ia miskin spiritual. Ada rasa takut jika tidak segera menikah maka akan terjerumus dosa,tapi takutnya hanya sebatas takut saja. Tidak mempersiapkan diri lebih dari itu. Orang yang menikah hanya karena takut terjerumus, belum tentu pernikahannya itu adalah solusi. Ia menikah hanya untuk memenuhi hajat kebutuhannya. Sementara, tidak ada yg menjamin bahwa setelah menikahi seorang wanita, tingkat keberbutuhannya tercukupi. Dengan kata lain, nikah dengan seorang istri saja tidak cukup karena begitu besar dorongannya memBUTUHkan lebih dari itu. Meski ada pula, menikahi lebih dari satu istri yg merupakan cermin tingginya spiritual. Yakni jika ia mampu menghadirkan pernikahan yg tidak sampai menimbulkan luka bagi istri pertamanya. Kelompok yg ketiga adalah PANTAS.Seseorang yang PANTAS untuk menikah adalah orang yg tidak gemar show off atas kesiapannya menikah di hadapan pubik (termasuk di jejaring sosial). Ia tidak perlu mengatakan itu,orang lain pun sudah bisa menilai bahwa ia sungguh telah PANTAS menikah. Orang-orang kelompok ini justru adalah orang-orang yg jarang mengekspose kerinduannya akan hadirnya belahan jiwa meski kerinduannya sudah meledak-ledak di dalam dada. Orang-orang tipe ini juga tidak gemar menuliskan di update status betapa dia menjaga hatinya dan betapa khawatirnya ia terjerumus dalam kubang dosa. Ia menjaga sikap dan akhlaqnya dalam sikap, bukan sekedar kata. Ia habiskan hari dengan banyak beristighfar pada Robbnya tanpa diserukan lewat jejaring sosialnya. Orang-orang kelas PANTAS ini tidak membutuhkan pendeklarasian diri bahwa dia sudah PANTAS untuk menikah. Ia justru akan mendapatkan pengakuan akan kePANTASannya dari orang-orang di sekitarnya. “Kamu kan sudah PANTAS menikah. Nunggu apa lagi, sih?”, Tak jarang ditanya guru atau ustadznya, “Antum nunggu apa lg? Belum ada jodoh? Kalau sama anak saya mau?” Ada juga yang kemudian datang menawarkan saudaranya padanya “Kamu itu shalihah, pandai memasak, rajin, sudah ada calon belum? Mau nggak sama kakak saya?”.Nah… sekarang saatnya kita kembali menengok ke dalam diri, Apakah kata-kata kita (termasuk tulisan kita di jejaring sosial) layak untuk dikatakan PANTAS menikah, jika membicarakan pernikahan saja dengan cekikikan, rayuan gombal, dan imajinasi-imajinasi keberduaan yg jauh dari orientasi mencari keberkahan pernikahan? Tak berlebihan kiranya jika tergelitik rupanya saya untuk diam diam mengamati fenomena update status singlewan singlewati tentang pernikahan. Benarkan tujuan kita update status ttg pernikahan yg dibumbui canda sekedar joke semata? Apakah update status ttg motivasi pernikahan yg kita berikan benar-benar ‘sekedar’ berbagi motivasi? Atau jangan-jangan kita hanya tengah show off kesiapan, atau dangkalnya lagi kita tengah tebar pesona agar diidamkan banyak pasang mata yg membacanya yg boleh jadi salah satunya ‘si dia’ ? Akhirnya, bukan sekedar MENIKAH MUDA yang selayaknya kita citakan. Tapi MENIKAH DEWASA. Menikah dengan segenap kesadaran ilmu, akhlaq, dan orientasi tentang membangun rumah tangga.Bukan sekedar INGIN atau BUTUH, tetapi kita memang PANTAS untuk menikah.—

Iva Wulandari, 2014

islamicthinking:

Masjid Nabwi on a rare cloudy day.

I’ll be there, someday… (insya Allah)

(Reblogged from islamicthinking)

kehidupan masih terlalu menarik untuk kita acuhkan

terdapat begitu banyak kejutan yang akan kita alami,

meskipun tidak semuanya menyenangkan…

rufisa:

Aulia dan Gerhana. Dua sahabat yang tak terpisahkan. Pertama kali ketika saya datang dan mengajar sebagai guru baru, saya sudah dikagetkan dengan tingkah mereka berdua; main kejar-kejaran di lapangan bola. Padahal teman-teman seusianya sedang asyik bersosmed ria di dalam kelas sambil putar musik hip-hop atau apalah itu namanya.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin melihat suatu “keistimewaan” pada diri Aulia (sebelah kiri). Dia bisa membaca, tapi bicaranya masih tidak jelas seperti kumur-kumur, saya berkali-kali harus berkata “Coba ulangi, Nak,” atau “Lebih keras lagi,” sambil memfokuskan arah mata saya pada gerak bibirnya. Dia juga bisa menulis, tapi untuk memahami tulisannya itu, saya harus menelaah hurufnya satu persatu. Tak apa, saya sangat menikmatinya!

Gerhana. Dia pintar. Selalu juara kelas. Tapi sayang, dia seperti tersingkirkan secara pelan-pelan setiap kali ada perbincangan seru di kelas. Atau tak jarang dia menjadi bahan lawakan teman-temannya karena saking polosnya. Teman-temannya mencarinya hanya ketika ada PR atau ulangan. “Ger, liat dong!” Dan ketika ada pembagian kelompok, dua nama inilah yang selalu menjadi pilihan terakhir (memenuhi kursi yang kosong saja). Bagi Gerhana, teman yang tidak pernah memaksanya mengerjakan PR, dan selalu menjadikannya sebagai pilihan pertama ketika ada pembagian kelompok adalah Aulia. Mungkin dari situlah cerita pertemanan mereka dimulai. Dan dari situlah saya bisa melihat contoh lain dari sebuah persahabatan yang tulus.

Allah membukakan mata hatiku lagi, bahwa Dia menciptakan berjenis-jenis manusia untuk bisa saling melengkapi…

————————————————————————————————-

*Foto di atas diabadikan oleh Novi, teman sekelas mereka. :)

Masya Allah

(Reblogged from rufisa)
(Reblogged from kurniawangunadi)

akhwataluswah:

ada banyak sekali alasan untuk memilih tidak pacaran,

yang manakah alasanmu?

(Reblogged from akhwataluswah)